BAB II
KAJIAN TEORI
(الدراسة النظرية)
2.1
Kajian Teori(الدراسة النظرية)
2.1.1 Pembelajaran Kooperatif (التعلم الجماعي)
Pembelajaran kooperatif didasari oleh falsafah
homo homini socius. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk
pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivisme. Menurut Panen, dkk (2001:69) bahwa ”Belajar kooperatif kolaboratif merupakan proses konstruktivisme
sosial yang menjadi salah satu proses konstruksi pengetahuan yang relatif
dominan dalam diri sebagai mahkluk sosial”.
Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk
pengajaran yang menekankan adanya
kerjasama dan gotong royong sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia
yang sangat mengutamakan azaz gotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Banyak
ahli yang telah mencoba mengemukakan pengertian pembelajaran kooperatif.
Menurut Lie, Anita (2007:12) mengatakan bahwa ”Pembelajaran kooperatif atau pembelajaran
gotong royong adalah sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak
didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas tersetruktur, dimana
dalam sistem ini guru sebagai fasilitator” .Dalam pengertian lain, Eggen dan Kauchak dalam
Trianto (2007:42) menyatakan bahwa “Pembelajaran kooperatif adalah sekelompok
dari strategi yang melibatkan siswa untuk berkolaborasi mencapai tujuan
tertentu.Manusia merupakan individu yang berbeda satu sama lain yang memiliki
derajat potensi, latar belakang historis, serta harapan masa depan yang
berbeda. Karena adanya perbedaan ini, manusia yang satu membutuhkan manusia
yang lain sehingga manusia harus menjadi mahluk sosial yang berinteraksi dengan
sesama”.
Pembelajaran kooperatif merujuk kepada beberapa
metode pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil untuk
saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pembelajaran. Dalam
kelas kooperatif diharapkan para peserta didik dapat saling membantu, saling
mendiskusikan, dan saling berargumentasi untuk mengasah pengetahuan yang mereka
kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Cara
belajar kooperatif jarang sekali guru mengantikan pengajaran yang diberikan
guru, tetapi lebih sering menganti pengaturan tempat duduk yang individu, cara
belajar individu dan dorongan yang individu.
Seperti yang diungkapkan oleh Abdurrahman
dan Bintoro dalam Nurhadi, dkk (2004:60) “Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran
yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling
mencerdaskan, saling menyayangi dan saling tenggang rasa antar sesama siswa
sebagai latihan untuk hidup dalam masyarakat nyata, sehingga sumber belajar
bukan hanya dari guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa”.
Berdasarkan ungkapan di atas, pembalajaran
kooperatif bisa menjadi suatu pembelajaran yang mengajarkan siswa untuk bisa
bersosialisasi secara baik dengan orang lain, seperti mereka bisa menghargai
pendapat orang lain dalam berdiskusi baik dengan teman sekelompoknya maupun dari
kelompok lain.Selanjutnya Ibrahim dkk (2000:9) menyatakan“Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda
latar belakang dan kondisi untuk bekerjasama saling bergantung satu sama lain
atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan
kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain”.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut
dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang
menekankan pada kerjasama antar siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah
belajar, saling bertukar pikiran dalam belajar yang dibentuk dalam
kelompok-kelompok kecil, sehingga siswa bertanggung jawab secara individu
maupun kelompok untuk mencapai hasil belajar. Akan tetapi para pengajar sangat enggan menerapkan pembelajaran di kelas dengan azaz gotong royong. Lie, A
(2007:27) mengemukakan beberapa alasan mengapa para pengajar enggan menerapkan
azaz tesebut, diantaranya:
a. Kekhawatiran akan
terjadinya kekacauan di kelas.
b. Ada siswa yang tidak
senang belajar kelompok, lebih memilih belajar secara individu.
c. Siswa yang malas lebih
mengandal temannya yang tekun dan siswa yang tekun dituntut bekerja ekstra
dalam kelompoknya.
d. Adanya perasaan minder
bagi siswa yang kurang mampu belajar bersama siswa yang lebih pandai.
Sesungguhnya hal-hal di atas dapat
dikendalikan oleh pembelajaran kooperatif, karena pembelajaran kooperatif
memiliki unsur-unsur tertentu untuk memungkinkan proses belajar dan
pembelajaran di kelas secara efektif. Roger dan David Johnson dalam Lie, A
(2007:31) mengemukakan, “Tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif”. Ada lima unsur proses belajar mengajar bisa
disebut menggunakan pembelajaran kooperatif, yaitu:
1.
Saling ketergantungan positif
Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang
bekerjasama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang
siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. Siswa
akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok yang juga mempunyai andil
terhadap suksesnya kelompok. Artinya lewat pembelajaran kooperatif keberhasilan
kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Saling ketergantungan
positif bertentangan dengan ketergantungan negatif. Dalam ketergantungan
negatif siswa berada dalam situasi saling bersaing, dimana kemajuan, kemampuan,
dan kecerdasan masing-masing anggota kelompok tidak digunakan untuk saling
membantu antarsiswa. Karena itu, untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif
guru perlu menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok
harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar dapat mencapai tujuan yang
diharapkan.
2.
Bertanggung jawab perseorangan
Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa
tanggung jawab siswa dalam hal:
a.
Membantu siswa yang membutuhkan bantuan.
b.
Siswa tidak dapat hanya sekedar membonceng pada
hasil kerja teman sekelompoknya. Artinya setiap anggota kelompok dalam
pembelajaran kooperatif perlu menyadari tanggung jawab pribadi dalam
kelompoknya. Secara individu seseorang menentukan keberhasilan kelompok dalam
menyelesaikan tugasnya. Karena itu, kunci utama keberhasilan mendorong tanggung
jawab individu dalam kelompok terletak pada tugas yang dirancang guru untuk
dikerjakan setiap kelompok.
c.
Keterampilan interpersonal (interpersonal
skill) dalam
pembelajaran kooperatif selain dituntut untuk mempelajari materi yang
diberikan, seorang siswa juga dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi
dengan siswa lain dalam kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap sebagai anggota
kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus.
Keterampilan ini berperan mengarahkan seorang siswa berinteraksi dan membangun
kerjasama dengan siswa yang lain. Keterampilan interpersonal yang dimiliki akan
menuntun siswa lebih peka menghargai berbagai perbedaan diantara teman belajar,
sehingga ia mampu menempatkan diri diantara berbagai keragaman baik.
3.
Interaksi langsung antar siswa
Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antarsiswa. Hal ini
terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai
anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah
karena kegagalan seseorang dalam kelompok akan mempengaruhi suksesnya kelompok.
Untuk mengatasi masalah ini, siswa yang membutuhkan bantuan akan mendapatkan
dari teman sekelompoknya. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif
adalah dalam hal tukar-menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari
bersama. Kegiatan interaksi ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk bersinergi demi keuntungan semua anggota. Hasil pemikiran beberapa
orang akan lebih baik dibanding pemikiran seorang diri. Inti dari sinergi itu
adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan dan mengisi kekurangan
masing- masing.
4.
Tatap muka
Unsur paling menonjol dalam pembelajaran kooperatif ini adalah terjadinya tatap muka antar kelompok yang telah
disepakati. Kegiatan tatap muka ini akan membentuk suatu sinergis antar anggota
kelompok. Sinergi yang dibentuk dalam kelompok akan melahirkan rasa saling
menghargai, memanfaatkan kelebihan anggota kelompok lainnya dan mengisi
kekurangan masing-masing.
5.
Evaluasi proses kelompok
Pengevaluasian proses kerja kelompok tidak
perlu diadakan setiap ada kerja kelompok. Namun pengajar perlu menjadwalkan
waktu khusus untuk kelompok yang hendak dievaluasi. Pengevaluasian berfungsi
untuk meningkatkan efektifitas kerja sama antar anggota kelompok.
Dari uraian di atas, maka dengan
pembelajaran kooperatif akan lebih mampu memotifasi siswa untuk menjadi aktif
dalam pembelajaran. Melalui kelompok belajar akan terjadi saling tukar pikiran,
tidak ada lagi kesenjangan antar siswa karena semuanya saling berinteraksi satu
sama lainnya. Karena anggotanya bersifat hitrogen, siswa yang pandai dapat
memberikan masukan bagi temannya yang berkemampuan rendah dan siswa yang
berkemampuan rendah banyak memperoleh keuntungan dari rekannya yang pandai. Di
dalam kelompok akan terlaksana kerjasama yang maksimal sehingga dapat menutupi
kekurangan dari anggota kelompok.
Melalui pembelajaran kooperatif diharapkan
siswa lebih aktif dalam mendiskusikan konsep tentang pelajaran mereka. Siswa
yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong untuk bekerjasama
pada tugas bersama untuk mencapai suatu penghargaan bersama. Satu aspek penting
pembelajaran kooperatif adalah disamping membantu tingkah laku kooperatif
adalah hubungan yang lebih baik diantara siswa, juga secara bersama membantu
siswa dalam pelajaran akademis mereka. Menurut Ibrahim dkk (2000:6),
pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Siswa bekerjasama dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan
materi belajarnya.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang
memiliki kemampuan yang
berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Bilamana mungkin, anggota
kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
3. Penghargaan lebih berorientasi
kelompok ketimbang individu.
Menurut Lungdren dalam Ibrahim dkk (2000:18),
manfaat dari pembelajaran kooperatif bagi siswa yang berprestasi rendah antara
lain:
1.
Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
2.
Rasa harga diri lebih tinggi
3.
Memperbaiki sikap terhadap ilmu pengetahuan dan sekolah
4.
Memperbaiki kehadiran
5. Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar
6.
Berkurangnya perselisihan
antar pribadi
7.
Berkurangnya sikap
apatis
8.
Pemahaman lebih mendalam
9.
Motivasi lebih mendalam
10.
Hasil belajar lebih baik.
Adapun langkah-langkah pembelajaran pembelajaran kooperatifditunjukkan pada tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1. Enam langkah/fase dalam metode
pembelajaran kooperatif
|
No
|
Fase
|
Kegiatan guru
|
|
1
|
Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
|
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
|
|
2
|
Menyajikan
Informasi
|
Guru menyajikan
informasi kepada siswa dengan mendemonstrasikan atau lewat bahan
bacaan.
|
|
3
|
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok
belajar
|
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk
kelompok belajar dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi
secara efisien.
|
|
4
|
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
|
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat
mereka mengerjakan tugas mereka
|
|
5
|
Evaluasi
|
Guru
mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari/masing-masing
kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
|
|
6
|
Memberikan penghargaan
|
Guru
mencari cara untuk menghargai baik upaya atau hasil belajar individu dan
kelompok.
|
(Sumber: Ibrahim, dkk. 2000:10)
2.1.2 Model PembelajaranStudent Team Achievement Division (STAD) (طريقة التعلم الجماعي)
2.1.2.1
Pengertian Student Team Achievement Division (STAD) (معنيالتعلم
الجماعي)
Istilah pembelajaran kooperatif berasal dari
bahasa Inggris yaitu “Cooperative Learning”. Dalam sebuah kamus
Inggris-Indonesia, cooperative berarti kerjasama dan learning berarti pengetahuan atau pelajaran. Karena berhubungan
dengan proses belajar mengajar, maka istilah Cooperative Learning
tersebut diartikan dengan pembelajaran kooperatif.
Metode STAD merupakan salah satu model pembelajaran yang
dikembangkan berdasarkan teori psikologi sosial. Dalam teori ini sinergi yang
muncul dalam kerja kooperatif menghasilkan motivasi yang lebih dari pada
individualistik dalam lingkungan kompetitif. Pembelajaran kooperatif meningkatkan perasaan positif antara satu dengan
lainnya, mengurangi keterasingan dan kesendirian, membangun hubungan dan
menyediakan pandangan positif terhadap orang lain.
Beberapa pengertian metodeSTAD adalah merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif.
STAD didesain untuk memotivasi siswa-siswa supaya kembali bersemangat dan
saling menolong untuk mengembangkan keterampilan yang diajarkan oleh guru.
Menurut Mohamad Nur (2008:5), “Pada model ini
siswa dikelompokkan dalam tim dengan anggota empat sampai
lima siswa pada setiap tim. Tim dibentuk secara heterogen menurut tingkat kinerja,
jenis kelamin, dan suku”.
Aktivitas belajar dengan pembelajaran kooperatif STAD memungkinkan siswa
dapat belajar lebih santai disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama,
persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Pembelajaran
kooperatif STAD memberi kesempatan kepada
siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam proses
belajar sehingga terjalin kerja sama antara siswa yang pintar dan siswa
yang kurang pintar. dengan demikian pengetahuan dari siswa yang kurang pintar
dapat bertambah melalui informasi yang diperoleh dari siswa yang pintar. Selain
itu kesenjangan tentang pengetahuan diantara siswa dapat diminimalkan sehingga
tercipta kondisi belajar yang tenang dan optimal. Siswa yang belajar pada
kondisi yang optimal akan mempengaruhi peningkatan minat dan motivasi
belajarnya, sehingga dengan motivasi yang tinggi diharapkan mampu memberikan
peningkatan terhadap hasil belajar.
Menurut Slavin (2008:143-146), bahwa
pembelajaran kooperatif STAD
terdiri atas lima komponen utama yaitu: 1) Presentasi
kelas, 2) Kerja
kelompok (tim), 3) Kuis, 4) Skor
kemajuan individual, 5) Penghargaankelompok.
1.
Presentasi kelas (Class presentation)
Dalam
STAD materi pelajaran mula-mula disampaikan dalam presentasi kelas. Metode yang
digunakan biasanya dengan pembelajaran langsung atau diskusi kelas yang dipandu
guru. Selama presentasi kelas siswa harus benar-benar memperhatikan karena dapat
membantu mereka dalam mengerjakan kuis individu yang juga akan menentukan nilai
kelompok.
2.
Kerja kelompok (Teams Works).
Setiap
kelompok terdiri dari empat sampai lima siswa yang heterogen, laki-laki dan
perempuan,dari suku yang berbeda, memiliki kemampuan
berbeda. Fungsi utama dari kelompok adalah menyiapkan anggota kelompok agar
mereka dapat mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru menjelaskan materi,
setiap anggota kelompok mempelajari dan mendiskusikan Lembar Kerja Siswa (LKS),
membandingkan jawaban dengan teman kelompok dan saling membantu antar anggota
jika ada yang mengalami kesulitan. Setiap saat guru mengingatkan dan menekankan
pada setiap kelompok agar setiap anggota melakukan yang terbaik untuk
kelompoknya dan pada kelompok sendiri agar melakukan yang terbaik untuk
membantu anggotanya.
3.
Kuis (quiz).
Setelah
guru memberikan presentasi, siswa diberi kuis individu. Siswa tidak
diperbolehkan membantu sama lain selama kuis berlangsung. Setiap siswa
bertanggung jawab untuk mempelajari dan memahami materi yang telah disampaikan.
4.
Peningkatan nilai individu (Individual Improvement
Score ).
Peningkatan
nilai individu dilakukan untuk memberikan tujuan prestasi yang ingin dicapai
jika siswa dapat berusaha keras dan hasil prestasi yang lebih baik dari yang
telah diperoleh sebelumnya. Setiap siswa dapat menyumbangkan nilai maksimum
pada kelompoknya dan setiap siswa mempunyai skor dasar yang diperoleh dari
rata-rata tes atau kuis sebelumnya. Selanjutnya siswa menyumbangkan nilai untuk
kelompok berdasarkan peningkatan nilai individu yang diperoleh.
5.
Penghargaan kelompok (Team Recognation).
Kelompok
mendapatkan sertifikat atau penghargaan lain jika rata-rata skor kelompok
melebihi kriteria tertentu. Skor
tim siswa dapat juga digunakan untuk menentukan dua puluh persen dari peringkat
mereka.
Hal penting yang harus
diperhatikan dalam setiap pelaksanaan STAD ini adalah pemilihan anggota
kelompok.Heterogenitas harus menjadi dasar utama dalam setiap pemilihan anggota
suatu kelompok.Heterogen disini merupakan campuran menurut tingkat prestasi,
jenis kelamin, dan suku.
2.1.2.2 Langkah-Langkah
Pelaksanaan Student Team Achievement Division (STAD) (حطوات تنفيذ التعلم الجمامي)
STAD adalah salah satu pembelajaran kooperatif yang
paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat
sampai enam siswa yang merupakan campuran menurut tingkat kerjanya, jenis
kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim.
Untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut,
maka siswa dikenai kuis tentang materi tersebut dengan catatan saat kuis
berlangsung mereka tidak boleh saling membantu antara satu sama lainnya.
Pada model pembelajaran STAD, tim yang terbaik
akan mendapatkan sebuah penghargaan. Menurut Mohamad Nur (2008:5-6),
penghargaan diberikan pada tim dengan kriteria tertentu. Kriteria itu dapat
diambil dari skor tim, kekompakan tim dalam bekerja sama, saling membantu teman
satu tim dalam mempelajari materi, dan saling memberi semangat kepada teman
satu tim untuk melakukan yang terbaik. Ide utama di
balik STAD adalah untuk memotivasi siswa agar saling memberi semangat dan
membantu dalam menuntaskan keterampilan-keterampilan yang dipresentasikan guru.
Adapun langkah-langkah
pembelajaran kooperatif tipe STAD meliputi:
a. Guru menyampaikan materi pelajaran.
b. Guru membentuk beberapa kelompok, setiap
kelompok terdiri dari empatsampai lima siswa dengan kemampuan yang
berbeda-beda.
c. Guru mempersiapkan bahan atau materi untuk didiskusikan
dalam kelompok untuk mencapai kompetensi dasar.
d. Guru memfasilitaskan siswa dalam bentuk
rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pelajaran yang
telah dipelajari.
e. Guru memberikan tes atau kuis kepada siswa secara individu.
f. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok
berdasarkan perolehan nilai hasil belajar individu dari skor dasar ke skor kuis
berikutnya.
STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di
Universitas John Hopkin dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang
paling sederhana. Guru yang menggunakan metode STAD, juga mengacu kepada
belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap
minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas
tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota empat samapai lima orang,
setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan,
berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain
untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama
lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, satu sama lain dan
atau melakukan diskusi. Secara individual setiap minggu atau setiap dua minggu
siswa diberi kuis. Kuis itu diskor, dan tiap individu diberi skor perkembangan.
Skor perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi
berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor yang lalu.
Setiap minggu pada suatu lembar penilaian singkat atau dengan cara lain,
diumumkan tim-tim dengan skor tertinggi, siswa yang mencapai skor perkembangan
tinggi, atau siswa yang mencapai skor sempurna pada kuis-kuis itu.
2.1.2.3
Kelebihan
dan Kekurangan Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) (منافع التعلم الجماعي)
Pembelajaran kooperatif mempunyai keistimewaan,
yaitu setiap anggota kelompok diberi tugas, adanya interaksi langsung antar
siswa, siswa dilarang belajar untuk dirinya sendiri dan teman satu kelompok,
guru membantu siswa mengembangkan keterampilan seseorang dalam kelompok kecil,
dan guru berinteraksi dengan siswa jika diperlukan.
Suatu strategi pambelajaran mempunyai beberapa kelebihan. Demikian pula dengan pembelajaran kooperatif STAD. Kelebihan pembelajaran kooperatif STAD menurut Slavin, 1995:17) diantaranya adalah:
1.
Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan
menjunjung tinggi norma-norma kelompok.
2.
Siswa aktif membantu dan memotivasi semangat
untuk berhasil bersama.
3.
Aktif berperan membantu teman sebaya untuk
lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.
4.
Interaksi antar siswa seiring dengan
peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.
Selain kelebihan tersebut, dalam
pembelajaran kooperatif STAD juga memiliki kekurangan-kekurangan, diantara
kekurangan pembelajaran kooperatif STAD sebagai berikut:
1.
Membutuhkan waktu lebih lama untuk siswa
sehingga sulit mencapai target kurikulum.
2.
Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk guru
sehingga pada umumnya guru tidak mau menggunakan pembelajaran kooperatif.
3.
Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga
tidak semua guru dapat melakukan pembelajaran kooperatif.
4.
Menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya
sifat suka bekerja sama.
2.1.3
Muhadatsah (Percakapan)(المحادثة)
2.1.3.1 Pengertian Muhadatsah (معنى المحادثة)
Menurut Adib
Bisri dan Munawwir AF dalam kamus Al-Bisri (1999:102), mengemukakan bahwa “Istilah محادثة merupakan bentuk مصدر ميمى berasal dari kata حادث
- يحادثdengan wazannya محدثة
.فاعل - يفاعلberarti
percakapan, dialog atau pembicaraan”. Percakapan adalah keterampilan menyampai
pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain, percakapan identik dengan
penggunaan bahasa secara lisan (Danial-faez.blogspor.com).
Menurut Henry Guntur Taringan (1990:136) menyatakan bahwa “Muhadatsah merupakan salah satu model latihan pengajaran kemahiran berbicara.
Kemahiran itu sendiri dapat diartikan kemampuan pembelajaran untuk menggunakan
bahasa untuk tujuan-tujuan kehidupan nyata.Kemahiran bicara itu sendiri adalah
kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk
mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan”.
Kemahiran muhadatsah
yang penulis maksud dalam penelitian ini adalah kemampuan pembelajaran
untuk melaksanakan percakapan mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan
menggunakan bahasa Arab.Sedangkan pembelajaran muhadatsah yang dimaksud
adalah pembelajaran yang bertujuan melatih siswa melakukan percakapan
mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa Arab.
2.1.3.2 Tujuan Pengajaran Muhadatsah (أهداف تعليم المحادثة)
Tujuan muhadatsah menurut Ahmad Fuad Effendy adalah:
apabila dilihat secara umum tujuan latihan berbicara untuk tingkat pemula dan
menengah ialah agar siswa dapat berkomunikasi lisan secara sederhana dalam
berbahasa Arab. Sedangkan tujuan akhir latihan pengucapan adalah pengucapan ekspresi
(ta’bir)yaitu mengemukakan ide, pikiran, pesan kepada orang lain”. Adapun tujuan lain dari pengajaran muhadatsah
adalah:
1. Melatih
lidah anak didik agar terbiasa dan fashih bercakap-cakap (berbicara
dalam bahasa Arab).
2. Mampu
berbicara dalam bahasa Arab mengenai kejadian apa saja dalam masyarakat dan
dunia internasional apa yang ia ketahui.
3. Mampu
menerjemahkan percakapan orang lain lewat telepon, radio, TV, tape recorder dan
lain-lain.
4. Menumbuhkan
rasa cinta dan menyenangi bahasa Arab dan Al-Qur'an, sehingga timbul kemauan
untuk belajar dan mendalaminya.
Sedangkan tujuan pengajaran muhadatsahbahasa
Arab menurut Muhammad Yunus adalah:
1.
Membiasakan murid-murid
pandai bercakap-cakap dengan bahasa
Arab yang baik dan fashih.
2.
Melatih murid-murid
supaya pandai menerangkan apa-apa yang terlintas dalam hatinya dan apa yang
dapat ditangkap oleh panca indranya dengan perkataan yang betul serta tersusun
menurut dengan mestinya.
3.
Melatih murid-murid
supaya sanggup membentuk pendapat yang betul dan menerangkan perkataan yang
terang dan tidak ragu-ragu.
4.
Melatih murid-murid
supaya pandai menggunakan kata-kata dan menyusun menurut tata bahasa serta
pandai meletakkan kata lafadz pada tempatnya.
Dari beberapa tujuan pengajaran muhadatsah di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa ilmu muhadatsah sangatlah penting baik itu dalam
memahami kata-kata bahasa Arab, melafalkan kata-kata bahasa Arab dengan fashih,
mampu memahami ucapan-ucapan lawan bicara, serta dapat menyusun kata-kata
dengan baik dan benar.
2.1.3.3 Indikator
Kemampuan Muhadatsah
Dan menurut
Henry Guntur Taringanmenyatakan bahwa: ”Seseorang dikatakan memiliki kemampuan
berbicara apabila telah menguasai empat unsur yaitu: fonologi, struktur, kosakata,
kecepatan kelancaran umum”.
a.
Fonologi (الكلمة)adalah terdiri dari pengucapan bunyi secara
benar dalam pelafalan, dengan mengetahui tekanan, nada, panjang, dan jeda.
b.
Struktur(التركيب) yaitu susunan bagian kalimat-kalimat yang terdiri subjek,
predikat, objek atau dapat ditambah keterangan. Jadi siswa dapat dikatakan
mahir apabila siswa mampu menyusun kalimat dengan benar sesuai urutan
penulisan.
c.
Kosakata(المفردات) yaitu lafal yang menunjukan kepada suatu makna yang tersendiri,
yang terdiri dari tiga macam yaitu isim(kata
benda), fi’il(kata kerja), dan huruf.
d.
Kecepatan kelancaran umum (طلاقة اللسان)yaitu kecepatannya dalam mengidentifikasi makna
pembicaraan yang didengar.
Bahwa kemahiran
siswa dalam muhadatsah bisa
dilihat dari kemampuan para siswa untuk melakukan percakapan, mengekspresikan
pikiran dan perasaan dengan mengunkan bahasa Arab serta dengan diikuti
unsur-unsur fonologi, struktur, kosakata dan
kecepatan kelancaran umum.
2.2
Kerangka Berpikir (هيكل الفكرة)
Kerangka berpikir dalam
penelitian ini adalah “Jika diterapkan metode STAD maka adanya peningkatan
kemampuan muhadatsah pada siswa kelas
VIII B SMPIT Fitrah Insani Bandar Lampung tahun pelajaran 2012-2013.
2.3 Hipotesis (الفروض)
Hipotesis
dari penelitian eksperimen ini adalah apakah penerapan metode
STAD dapat meningkatkan kemampuanmuhadatsah bahasa
Arabpada siswa kelas VIII B SMPIT Fitrah Insani Bandar Lampung
tahun pelajaran 2012-2013.


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !