Headlines News :
Home » » Metode STAD BABA II

Metode STAD BABA II

Written By Unknown on Minggu, 29 Mei 2016 | 22.47

BAB II
KAJIAN TEORI
(الدراسة النظرية)

2.1 Kajian Teori(الدراسة النظرية)
2.1.1  Pembelajaran Kooperatif  (التعلم الجماعي)
Pembelajaran kooperatif didasari oleh falsafah homo homini socius. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivisme. Menurut Panen, dkk (2001:69) bahwa ”Belajar kooperatif kolaboratif merupakan proses konstruktivisme sosial yang menjadi salah satu proses konstruksi pengetahuan yang relatif dominan dalam diri sebagai mahkluk sosial”.

Pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pengajaran yang menekankan adanya  kerjasama dan gotong royong sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat mengutamakan azaz gotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Banyak ahli yang telah mencoba mengemukakan pengertian pembelajaran kooperatif. Menurut Lie, Anita (2007:12) mengatakan bahwa ”Pembelajaran kooperatif atau pembelajaran gotong royong adalah sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerjasama dengan sesama siswa dalam tugas tersetruktur, dimana dalam sistem ini guru sebagai fasilitator” .Dalam pengertian lain, Eggen dan Kauchak dalam Trianto (2007:42) menyatakan bahwa “Pembelajaran kooperatif adalah sekelompok dari strategi yang melibatkan siswa untuk berkolaborasi mencapai tujuan tertentu.Manusia merupakan individu yang berbeda satu sama lain yang memiliki derajat potensi, latar belakang historis, serta harapan masa depan yang berbeda. Karena adanya perbedaan ini, manusia yang satu membutuhkan manusia yang lain sehingga manusia harus menjadi mahluk sosial yang berinteraksi dengan sesama”.

Pembelajaran kooperatif merujuk kepada beberapa metode pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari materi pembelajaran. Dalam kelas kooperatif diharapkan para peserta didik dapat saling membantu, saling mendiskusikan, dan saling berargumentasi untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Cara belajar kooperatif jarang sekali guru mengantikan pengajaran yang diberikan guru, tetapi lebih sering menganti pengaturan tempat duduk yang individu, cara belajar individu dan dorongan yang individu. 

Seperti yang diungkapkan oleh Abdurrahman dan Bintoro dalam Nurhadi, dkk (2004:60)Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling mencerdaskan, saling menyayangi dan saling tenggang rasa antar sesama siswa sebagai latihan untuk hidup dalam masyarakat nyata, sehingga sumber belajar bukan hanya dari guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa.
Berdasarkan ungkapan di atas, pembalajaran kooperatif bisa menjadi suatu pembelajaran yang mengajarkan siswa untuk bisa bersosialisasi secara baik dengan orang lain, seperti mereka bisa menghargai pendapat orang lain dalam berdiskusi baik dengan teman sekelompoknya maupun dari kelompok lain.Selanjutnya Ibrahim dkk (2000:9) menyatakanPembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerjasama saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang menekankan pada kerjasama antar siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah belajar, saling bertukar pikiran dalam belajar yang dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil, sehingga siswa bertanggung jawab secara individu maupun kelompok untuk mencapai hasil belajar. Akan tetapi para pengajar sangat enggan menerapkan pembelajaran di kelas dengan azaz gotong royong. Lie, A (2007:27) mengemukakan beberapa alasan mengapa para pengajar enggan menerapkan azaz tesebut, diantaranya:
a.       Kekhawatiran akan terjadinya kekacauan di kelas.
b.      Ada siswa yang tidak senang belajar kelompok, lebih memilih belajar secara individu.
c.       Siswa yang malas lebih mengandal temannya yang tekun dan siswa yang tekun dituntut bekerja ekstra dalam kelompoknya.
d.      Adanya perasaan minder bagi siswa yang kurang mampu belajar bersama siswa yang lebih pandai.

Sesungguhnya hal-hal di atas dapat dikendalikan oleh pembelajaran kooperatif, karena pembelajaran kooperatif memiliki unsur-unsur tertentu untuk memungkinkan proses belajar dan pembelajaran di kelas secara efektif. Roger dan David Johnson dalam Lie, A (2007:31) mengemukakan, “Tidak semua kerja kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif”. Ada lima unsur proses belajar mengajar bisa disebut menggunakan pembelajaran kooperatif, yaitu:

1.        Saling ketergantungan positif
Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerjasama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya juga sukses. Siswa akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok yang juga mempunyai andil terhadap suksesnya kelompok. Artinya lewat pembelajaran kooperatif keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha setiap anggotanya. Saling ketergantungan positif bertentangan dengan ketergantungan negatif. Dalam ketergantungan negatif siswa berada dalam situasi saling bersaing, dimana kemajuan, kemampuan, dan kecerdasan masing-masing anggota kelompok tidak digunakan untuk saling membantu antarsiswa. Karena itu, untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif guru perlu menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
2.        Bertanggung jawab perseorangan
Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa dalam hal:
a.    Membantu siswa yang membutuhkan bantuan.
b.   Siswa tidak dapat hanya sekedar membonceng pada hasil kerja teman sekelompoknya. Artinya setiap anggota kelompok dalam pembelajaran kooperatif perlu menyadari tanggung jawab pribadi dalam kelompoknya. Secara individu seseorang menentukan keberhasilan kelompok dalam menyelesaikan tugasnya. Karena itu, kunci utama keberhasilan mendorong tanggung jawab individu dalam kelompok terletak pada tugas yang dirancang guru untuk dikerjakan setiap kelompok.
c.    Keterampilan interpersonal (interpersonal skill) dalam pembelajaran kooperatif selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan, seorang siswa juga dituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus. Keterampilan ini berperan mengarahkan seorang siswa berinteraksi dan membangun kerjasama dengan siswa yang lain. Keterampilan interpersonal yang dimiliki akan menuntun siswa lebih peka menghargai berbagai perbedaan diantara teman belajar, sehingga ia mampu menempatkan diri diantara berbagai keragaman baik.


3.        Interaksi langsung antar siswa
Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antarsiswa. Hal ini terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok akan mempengaruhi suksesnya kelompok. Untuk mengatasi masalah ini, siswa yang membutuhkan bantuan akan mendapatkan dari teman sekelompoknya. Interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif adalah dalam hal tukar-menukar ide mengenai masalah yang sedang dipelajari bersama. Kegiatan interaksi ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bersinergi demi keuntungan semua anggota. Hasil pemikiran beberapa orang akan lebih baik dibanding pemikiran seorang diri. Inti dari sinergi itu adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan dan mengisi kekurangan masing- masing.

4.        Tatap muka
Unsur paling menonjol dalam pembelajaran kooperatif ini adalah terjadinya tatap muka antar kelompok yang telah disepakati. Kegiatan tatap muka ini akan membentuk suatu sinergis antar anggota kelompok. Sinergi yang dibentuk dalam kelompok akan melahirkan rasa saling menghargai, memanfaatkan kelebihan anggota kelompok lainnya dan mengisi kekurangan masing-masing.

5.        Evaluasi proses kelompok
Pengevaluasian proses kerja kelompok tidak perlu diadakan setiap ada kerja kelompok. Namun pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus untuk kelompok yang hendak dievaluasi. Pengevaluasian berfungsi untuk meningkatkan efektifitas kerja sama antar anggota kelompok.

Dari uraian di atas, maka dengan pembelajaran kooperatif akan lebih mampu memotifasi siswa untuk menjadi aktif dalam pembelajaran. Melalui kelompok belajar akan terjadi saling tukar pikiran, tidak ada lagi kesenjangan antar siswa karena semuanya saling berinteraksi satu sama lainnya. Karena anggotanya bersifat hitrogen, siswa yang pandai dapat memberikan masukan bagi temannya yang berkemampuan rendah dan siswa yang berkemampuan rendah banyak memperoleh keuntungan dari rekannya yang pandai. Di dalam kelompok akan terlaksana kerjasama yang maksimal sehingga dapat menutupi kekurangan dari anggota kelompok.  

Melalui pembelajaran kooperatif diharapkan siswa lebih aktif dalam mendiskusikan konsep tentang pelajaran mereka. Siswa yang bekerja dalam situasi pembelajaran kooperatif didorong untuk bekerjasama pada tugas bersama untuk mencapai suatu penghargaan bersama. Satu aspek penting pembelajaran kooperatif adalah disamping membantu tingkah laku kooperatif adalah hubungan yang lebih baik diantara siswa, juga secara bersama membantu siswa dalam pelajaran akademis mereka. Menurut Ibrahim dkk (2000:6), pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
        1. Siswa bekerjasama dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
        3. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

Menurut Lungdren dalam Ibrahim dkk (2000:18), manfaat dari pembelajaran kooperatif bagi siswa yang berprestasi rendah antara lain:
1.      Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas
2.      Rasa harga diri lebih tinggi
3.      Memperbaiki sikap terhadap ilmu pengetahuan dan sekolah
4.      Memperbaiki kehadiran
5.      Penerimaan terhadap perbedaan individu lebih besar
6.      Berkurangnya perselisihan antar pribadi
7.      Berkurangnya sikap apatis
8.      Pemahaman lebih mendalam
9.      Motivasi lebih mendalam
10.  Hasil belajar lebih baik.









Adapun langkah-langkah pembelajaran pembelajaran kooperatifditunjukkan pada tabel 1 sebagai berikut:
Tabel 1. Enam langkah/fase dalam metode pembelajaran kooperatif
No
Fase
Kegiatan guru
1

Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
2
Menyajikan Informasi
Guru menyajikan  informasi kepada siswa dengan mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan.
3
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara efisien.
4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari/masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya atau hasil belajar individu dan kelompok.
(Sumber: Ibrahim, dkk. 2000:10)


2.1.2 Model PembelajaranStudent Team Achievement Division (STAD) (طريقة التعلم  الجماعي)
2.1.2.1 Pengertian Student Team Achievement Division (STAD) (معنيالتعلم الجماعي)
Istilah pembelajaran kooperatif berasal dari bahasa Inggris yaitu “Cooperative Learning”. Dalam sebuah kamus Inggris-Indonesia, cooperative berarti kerjasama dan learning berarti pengetahuan atau pelajaran. Karena berhubungan dengan proses belajar mengajar, maka istilah Cooperative Learning tersebut diartikan dengan pembelajaran kooperatif.

Metode STAD merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan teori psikologi sosial. Dalam teori ini sinergi yang muncul dalam kerja kooperatif menghasilkan motivasi yang lebih dari pada individualistik dalam lingkungan kompetitif. Pembelajaran kooperatif meningkatkan perasaan positif antara satu dengan lainnya, mengurangi keterasingan dan kesendirian, membangun hubungan dan menyediakan pandangan positif terhadap orang lain.

Beberapa pengertian metodeSTAD adalah merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. STAD didesain untuk memotivasi siswa-siswa supaya kembali bersemangat dan saling menolong untuk mengembangkan keterampilan yang diajarkan oleh guru. Menurut Mohamad Nur (2008:5), “Pada model ini siswa dikelompokkan dalam tim dengan anggota empat sampai lima siswa pada setiap tim. Tim dibentuk secara heterogen menurut tingkat kinerja, jenis kelamin, dan suku”.

Aktivitas belajar dengan pembelajaran kooperatif STAD memungkinkan siswa dapat belajar lebih santai disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Pembelajaran kooperatif STAD memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dengan sesama siswa  dalam proses belajar sehingga terjalin kerja sama antara siswa yang pintar dan siswa yang kurang pintar. dengan demikian pengetahuan dari siswa yang kurang pintar dapat bertambah melalui informasi yang diperoleh dari siswa yang pintar. Selain itu kesenjangan tentang pengetahuan diantara siswa dapat diminimalkan sehingga tercipta kondisi belajar yang tenang dan optimal. Siswa yang belajar pada kondisi yang optimal akan mempengaruhi peningkatan minat dan motivasi belajarnya, sehingga dengan motivasi yang tinggi diharapkan mampu memberikan peningkatan terhadap hasil belajar.

Menurut Slavin (2008:143-146), bahwa pembelajaran kooperatif STAD terdiri atas lima komponen utama yaitu: 1) Presentasi kelas, 2) Kerja kelompok (tim), 3) Kuis, 4) Skor kemajuan individual, 5) Penghargaankelompok.

1.        Presentasi kelas (Class presentation)
Dalam STAD materi pelajaran mula-mula disampaikan dalam presentasi kelas. Metode yang digunakan biasanya dengan pembelajaran langsung atau diskusi kelas yang dipandu guru. Selama presentasi kelas siswa harus benar-benar memperhatikan karena dapat membantu mereka dalam mengerjakan kuis individu yang juga akan menentukan nilai kelompok.

2.        Kerja kelompok (Teams Works).
Setiap kelompok terdiri dari empat sampai lima siswa yang heterogen, laki-laki dan perempuan,dari suku yang berbeda, memiliki kemampuan berbeda. Fungsi utama dari kelompok adalah menyiapkan anggota kelompok agar mereka dapat mengerjakan kuis dengan baik. Setelah guru menjelaskan materi, setiap anggota kelompok mempelajari dan mendiskusikan Lembar Kerja Siswa (LKS), membandingkan jawaban dengan teman kelompok dan saling membantu antar anggota jika ada yang mengalami kesulitan. Setiap saat guru mengingatkan dan menekankan pada setiap kelompok agar setiap anggota melakukan yang terbaik untuk kelompoknya dan pada kelompok sendiri agar melakukan yang terbaik untuk membantu anggotanya.

3.        Kuis (quiz). 
Setelah guru memberikan presentasi, siswa diberi kuis individu. Siswa tidak diperbolehkan membantu sama lain selama kuis berlangsung. Setiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari dan memahami materi yang telah disampaikan.



4.        Peningkatan nilai individu (Individual Improvement Score ).
Peningkatan nilai individu dilakukan untuk memberikan tujuan prestasi yang ingin dicapai jika siswa dapat berusaha keras dan hasil prestasi yang lebih baik dari yang telah diperoleh sebelumnya. Setiap siswa dapat menyumbangkan nilai maksimum pada kelompoknya dan setiap siswa mempunyai skor dasar yang diperoleh dari rata-rata tes atau kuis sebelumnya. Selanjutnya siswa menyumbangkan nilai untuk kelompok berdasarkan peningkatan nilai individu  yang diperoleh.

5.        Penghargaan kelompok (Team Recognation).
Kelompok mendapatkan sertifikat atau penghargaan lain jika rata-rata skor kelompok melebihi kriteria tertentu. Skor tim siswa dapat juga digunakan untuk menentukan dua puluh persen dari peringkat mereka.

Hal penting yang harus diperhatikan dalam setiap pelaksanaan STAD ini adalah pemilihan anggota kelompok.Heterogenitas harus menjadi dasar utama dalam setiap pemilihan anggota suatu kelompok.Heterogen disini merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku.

2.1.2.2   Langkah-Langkah Pelaksanaan Student Team Achievement Division (STAD) (حطوات  تنفيذ التعلم الجمامي)
STAD adalah salah satu pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat sampai enam siswa yang merupakan campuran menurut tingkat kerjanya, jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam tim. Untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut, maka siswa dikenai kuis tentang materi tersebut dengan catatan saat kuis berlangsung mereka tidak boleh saling membantu antara satu sama lainnya.

Pada model pembelajaran STAD, tim yang terbaik akan mendapatkan sebuah penghargaan. Menurut Mohamad Nur (2008:5-6), penghargaan diberikan pada tim dengan kriteria tertentu. Kriteria itu dapat diambil dari skor tim, kekompakan tim dalam bekerja sama, saling membantu teman satu tim dalam mempelajari materi, dan saling memberi semangat kepada teman satu tim untuk melakukan yang terbaik. Ide utama di balik STAD adalah untuk memotivasi siswa agar saling memberi semangat dan membantu dalam menuntaskan keterampilan-keterampilan yang dipresentasikan guru. Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD meliputi:
a.    Guru menyampaikan materi pelajaran.
b.    Guru membentuk beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari empatsampai lima siswa dengan kemampuan yang berbeda-beda.
c.    Guru mempersiapkan bahan atau materi untuk didiskusikan dalam kelompok untuk mencapai kompetensi dasar.
d.   Guru memfasilitaskan siswa dalam bentuk rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi pelajaran yang telah dipelajari.
e.    Guru memberikan tes atau kuis  kepada siswa secara individu.
f.     Guru memberikan penghargaan kepada kelompok berdasarkan perolehan nilai hasil belajar individu dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.

STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin dan merupakan pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Guru yang menggunakan metode STAD, juga mengacu kepada belajar kelompok siswa, menyajikan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu menggunakan presentasi verbal atau teks. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota empat samapai lima orang, setiap kelompok haruslah heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui tutorial, kuis, satu sama lain dan atau melakukan diskusi. Secara individual setiap minggu atau setiap dua minggu siswa diberi kuis. Kuis itu diskor, dan tiap individu diberi skor perkembangan. Skor perkembangan ini tidak berdasarkan pada skor mutlak siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor itu melampaui rata-rata skor yang lalu. Setiap minggu pada suatu lembar penilaian singkat atau dengan cara lain, diumumkan tim-tim dengan skor tertinggi, siswa yang mencapai skor perkembangan tinggi, atau siswa yang mencapai skor sempurna pada kuis-kuis itu.


2.1.2.3  Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Student Team Achievement Division (STAD) (منافع التعلم الجماعي)
Pembelajaran kooperatif mempunyai keistimewaan, yaitu setiap anggota kelompok diberi tugas, adanya interaksi langsung antar siswa, siswa dilarang belajar untuk dirinya sendiri dan teman satu kelompok, guru membantu siswa mengembangkan keterampilan seseorang dalam kelompok kecil, dan guru berinteraksi dengan siswa jika diperlukan.

Suatu strategi pambelajaran mempunyai beberapa kelebihan. Demikian pula dengan pembelajaran kooperatif STAD. Kelebihan pembelajaran kooperatif STAD menurut Slavin, 1995:17) diantaranya adalah:
1.      Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok.
2.      Siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama.
3.      Aktif berperan membantu teman sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.
4.      Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.

Selain kelebihan tersebut, dalam pembelajaran kooperatif STAD juga memiliki kekurangan-kekurangan, diantara kekurangan pembelajaran kooperatif STAD sebagai berikut:
1.      Membutuhkan waktu lebih lama untuk siswa sehingga sulit mencapai target kurikulum.
2.      Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk guru sehingga pada umumnya guru tidak mau menggunakan pembelajaran kooperatif.
3.      Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat melakukan pembelajaran kooperatif.
4.      Menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama.

2.1.3        Muhadatsah (Percakapan)(المحادثة) 
2.1.3.1 Pengertian Muhadatsah (معنى المحادثة)
Menurut Adib Bisri dan Munawwir AF dalam kamus Al-Bisri (1999:102),  mengemukakan bahwa “Istilah محادثة merupakan bentuk مصدر ميمى berasal dari kata حادث - يحادثdengan wazannya  محدثة .فاعل - يفاعلberarti percakapan, dialog atau pembicaraan”. Percakapan adalah keterampilan menyampai pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain, percakapan identik dengan penggunaan bahasa secara lisan (Danial-faez.blogspor.com).

Menurut Henry Guntur Taringan (1990:136) menyatakan bahwa Muhadatsah merupakan salah satu model latihan pengajaran kemahiran berbicara. Kemahiran itu sendiri dapat diartikan kemampuan pembelajaran untuk menggunakan bahasa untuk tujuan-tujuan kehidupan nyata.Kemahiran bicara itu sendiri adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan”.
Kemahiran muhadatsah yang penulis maksud dalam penelitian ini adalah kemampuan pembelajaran untuk melaksanakan percakapan mengekspresikan pikiran dan perasaannya dengan menggunakan bahasa Arab.Sedangkan pembelajaran muhadatsah yang dimaksud adalah pembelajaran yang bertujuan melatih siswa melakukan percakapan mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan menggunakan bahasa Arab.

2.1.3.2 Tujuan Pengajaran Muhadatsah (أهداف تعليم المحادثة)
Tujuan muhadatsah menurut Ahmad Fuad Effendy adalah: apabila dilihat secara umum tujuan latihan berbicara untuk tingkat pemula dan menengah ialah agar siswa dapat berkomunikasi lisan secara sederhana dalam berbahasa Arab. Sedangkan tujuan akhir latihan pengucapan adalah pengucapan ekspresi (ta’bir)yaitu mengemukakan ide, pikiran, pesan kepada orang lain”. Adapun tujuan lain dari pengajaran muhadatsah adalah:
1.      Melatih lidah anak didik agar terbiasa dan fashih bercakap-cakap (berbicara dalam bahasa Arab).
2.      Mampu berbicara dalam bahasa Arab mengenai kejadian apa saja dalam masyarakat dan dunia internasional apa yang ia ketahui.
3.      Mampu menerjemahkan percakapan orang lain lewat telepon, radio, TV, tape recorder dan lain-lain.
4.      Menumbuhkan rasa cinta dan menyenangi bahasa Arab dan Al-Qur'an, sehingga timbul kemauan untuk belajar dan mendalaminya.


Sedangkan tujuan pengajaran muhadatsahbahasa Arab menurut Muhammad Yunus adalah:
1.      Membiasakan murid-murid pandai bercakap-cakap dengan bahasa Arab yang baik dan fashih.
2.      Melatih murid-murid supaya pandai menerangkan apa-apa yang terlintas dalam hatinya dan apa yang dapat ditangkap oleh panca indranya dengan perkataan yang betul serta tersusun menurut dengan mestinya.
3.      Melatih murid-murid supaya sanggup membentuk pendapat yang betul dan menerangkan perkataan yang terang dan tidak ragu-ragu.
4.      Melatih murid-murid supaya pandai menggunakan kata-kata dan menyusun menurut tata bahasa serta pandai meletakkan kata lafadz pada tempatnya.

Dari beberapa tujuan pengajaran muhadatsah di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa ilmu muhadatsah sangatlah penting baik itu dalam memahami kata-kata bahasa Arab, melafalkan kata-kata bahasa Arab dengan fashih, mampu memahami ucapan-ucapan lawan bicara, serta dapat menyusun kata-kata dengan baik dan benar.

2.1.3.3 Indikator Kemampuan Muhadatsah
Dan menurut Henry Guntur Taringanmenyatakan bahwa: ”Seseorang dikatakan memiliki kemampuan berbicara apabila telah menguasai empat unsur yaitu: fonologi, struktur, kosakata, kecepatan kelancaran umum”.
a.         Fonologi  (الكلمة)adalah terdiri dari pengucapan bunyi secara benar dalam pelafalan, dengan mengetahui tekanan, nada, panjang, dan jeda.
b.        Struktur(التركيب) yaitu susunan bagian kalimat-kalimat yang terdiri subjek, predikat, objek atau dapat ditambah keterangan. Jadi siswa dapat dikatakan mahir apabila siswa mampu menyusun kalimat dengan benar sesuai urutan penulisan.
c.         Kosakata(المفردات) yaitu lafal yang menunjukan kepada suatu makna yang tersendiri, yang terdiri dari tiga macam yaitu isim(kata benda), fi’il(kata kerja), dan huruf.
d.        Kecepatan kelancaran umum  (طلاقة اللسان)yaitu kecepatannya dalam mengidentifikasi makna pembicaraan yang didengar.

Bahwa kemahiran siswa dalam muhadatsah  bisa dilihat dari kemampuan para siswa untuk melakukan percakapan, mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan mengunkan bahasa Arab serta dengan diikuti unsur-unsur fonologi, struktur, kosakata dan  kecepatan kelancaran umum.

2.2    Kerangka Berpikir (هيكل الفكرة)
Kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah “Jika diterapkan metode STAD maka adanya peningkatan kemampuan muhadatsah pada siswa kelas VIII B SMPIT Fitrah Insani Bandar Lampung tahun pelajaran 2012-2013.


2.3 Hipotesis (الفروض)
Hipotesis dari penelitian eksperimen ini adalah apakah penerapan metode STAD dapat meningkatkan kemampuanmuhadatsah bahasa Arabpada siswa kelas VIII B SMPIT Fitrah Insani Bandar Lampung tahun pelajaran 2012-2013.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Daarul Abror Kace - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template